6 Tips Penting Mengenalkan Masjid pada Anak

0
394


Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah (QS Luqman:17) “Bapak, ikut sholat ke Masjid boleh ya?!”

Deg…deg…siiir. Jantung langsung berdesir saat mendengar anak kesayangan kita yang masih balita ingin ikut sholat berjamaah di masjid. Hati ini berbunga- bunga karena ternyata anak kita ini mulai menunjukkan niat baiknya untuk menjalankan perintah Allah SWT, akan tetapi disaat yang bersamaan jantung ini juga mau copot membayangkan hal-hal yang tidak diinginkan bakal terjadi di masjid.

Tidak bisa dipungkiri, sebagian besar orang tua sangat was- was dan khawatir ketika akan membawa anak balitanya ke masjid. Anak- anak, terutama anak balita merupakan masa aktif dan sulit dikendalikan. Emosi anak balita ibarat roller coaster, semenit bisa jadi seperti boneka yang lembut dan imut, semenit berikutnya bisa menjadi aktif luar biasa sampai membuat cemas orangtua.

Begitulah, ketika akan dibawa ke masjid yang akan terbayang di benak kita adalah anak akan berteriak- teriak, berlarian, saling dorong, tertawa- tawa, menangis keras, dan sebagainya. Apakah ini benar akan terjadi? Iya. Memang semua hal yang saya sebutkan tadi, benar- benar terjadi. Lalu? Apakah sebagai orang tua kita akan menyerah dan tidak akan membawa anak ke masjid?

Perlu mengingat kembali, masjid merupakan pusat “peradaban” bagi kita umat muslim. Masjid merupakan tempat yang mulia dan memuliakan. Ketika di masjid, serasa jiwa seperti dicharge kembali. Tempat yang nyaman untuk berserah kepada-Nya. Bertemu dengan saudara seiman yang akan semakin memperkuat ukhuwah dan akidah. Begitu meruginya bila kita tidak mengajak anak kesayangan kita menikmati semua ini. Jangan sampai anak-anak kita kelak menjadi tidak suka datang ke masjid dikarenakan trauma dengan teguran-teguran para jamaah yang jauh dari keramahan pada anak. Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti (generasi yang buruk) yang mengabaikan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya maka kelak mereka akan tersesat (QS. Maryam:59).

Maka, berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantu mengurangi kegalauan para orang tua: Pertama, kenali karakter. Mengenali karakter ini mencakup mengenali karakter anak dan karakter masjid. Anak yang mempunyai karakter pasif biasanya tidak masalah ketika dibawa ke masjid manapun dan kapanpun. Karena anak dengan karakter ini, biasanya akan diam dan bersedia duduk di samping orang tuanya. Bahkan, akan mengikuti gerakan sholat hingga selesai. Beda persoalan ketika anak kita ternyata tergolong anak yang aktif. Anak yang aktif biasanya akan berlari- lari, berteriak- teriak, naik ke punggung orang tuanya dan sebagainya. Maka, disinilah pentingnya kita harus mengenal karakter Masjid. Setiap masjid mempunyai karakter yang berbeda-beda. Ada masjid yang membiarkan anak-anak bermain, berlarian, dan berteriak. Jamaah di masjid ini biasanya tidak akan marah bila para anak dan balita membuat ulah. Ada pula masjid yang sangat anti bila ada anak-anak dan balita datang kesana. Hingga tidak jarang para orang tua ikut ditegur (baca:dimarahi) akan ulah anaknya. Dalam hal ini kita sebagai orang tua harus jeli mengamati dan memilih masjid mana yang ramah anak dan masjid mana yang belum ramah anak.

Kedua, sugesti yang konsisten. Sebelum berangkat ke masjid secara berulang-ulang memberikan sugesti pada anak. Bahwa bila di dalam masjid harus sopan, ikut sholat, tidak ramai, dan lain sebagainya. Sugesti itu harus konsisten diulangi tanpa bosan hingga anak dapat memahaminya dan tidak mengulangi kegaduhannya.

Ketiga, membawa mainan, kita bisa menyiapkan mainan untuk anak saat dibawa ke masjid, dengan catatan mainan yang dibawa membuat anak semakin kooperatif ketika orang tuanya sedang sholat. Sahabat nabi yang bernama Rabi’ menceritakan bahwa pada suatu pagi hari Asyura Rosululloh mengirim pesan ke kampung-kampung sekitar kota Madinah, yang bunyinya, “Barangsiapa yang memulai puasa dari pagi tadi, maka silahkan untuk menyelesaikan puasanya, dan bagi yang tidak puasa terus berbuka. Sejak saat itu kami senantiasa kami puasa Asyura, begitu juga anak-anak kecil kami banyak yang ikut puasa dengan kehendak Allah, dan kamipun pergi ke masjid bersama anak-anak.

Keempat, memilih jadwal sholat. Bila anak memang tidak bisa dikondisikan, maka pilihlah jadwal sholat yang biasanya sepi jamaahnya. Misal: Dhuhur dan Ashar, karena kuantitas jamaah biasanya meledak saat magrib dan Isya. Kelima, Berada di shaf paling belakang. Keuntungan membawa anak dan berada di shaf paling belakang adalah lebih fleksibel. Bila anak sudah tidak bisa dikondisikan, kita bisa segera membatalkan sholat dan segera mengambil langkah seribu tanpa mengganggu jamaah lain.

Keenam, pastikan aman tidak ingin buang hajat. Hal tersebut sangatlah penting mengingat anak-anak balita belum pandai mengontrol tubuh bila hendak buang hajat. Ini bagian dari pengalaman teman saya yang harus mencuci karpet sebagian masjid karena anaknya buang hajat sembarangan. Ketujuh, Bergantian dengan pasangan. Bila ke masjid bersama pasangan, hendaknya dapat bergantian menjaga anak. Memang, akan ada yang berkorban tidak bisa berjamaah. Hal tersebut tidak jadi masalah, yang terpenting anak dapat dikondisikan dan orang tua tetap bisa ke masjid.

Semoga dengan ini dapat membantu menjaga konsistensi kita untuk membawa anak ke masjid. Bukan hal yang tidak mungkin bila sedini mungkin diajarkan ke masjid kelak anak akan menjadi generasi yang mencintai dan senantiasa memakmurkan masjid. Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang sholeh-sholeha, yang kelak menjadikan masjid sebagai peraduannya, dan selalu menjaga sholatnya.
Rabbana hablana min azwajina wa dzurrriyyatina qurrota ‘ayun waj’alna lil muttaqinna imama. Amien…
(Intarti, Dept. Kominmas PDNA Sleman)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here